Sajak-Sajak M Aan Mansyur
Menghadapi Meja Makan Malambukankah lucu sekali
mengapa baru malam ini
aku dan kau menyadari
telah bertahun-tahun meja makan
alangkah lapang memisahkan
dan semua yang menghampar
di atasnya tak menyingkat jarak
atau sekat antara aku dan kau
maka tangkup para mangkuk
hanya berisi daun-daun layu
warnanya semata hijau mati
tak punya cahaya seperti mata
sepasang milik kau yang dulu itu
para piring pura-pura merah
oleh bawang, wortel, tomat, cabai
atau cinta yang sesekali memantul
dari percakapan antara aku dan kau
tentang diri orang-orang lain
nasi sudah pula lupa warna putih
yang harusnya membuat lapar patah
atau jatuh ke dalam entah
air di dalam gelas yang tinggi
seperti sumur selalu menunggu
tenggorokan aku dan kau jadi sungai,
tangga yang akan mengembalikannya
ke langit ke tubuh awan yang gemuk
buah-buahan ingin segera membusuk
berulat dan kembali ke ranting-ranting
atau merindukan pisau pembawa tusuk
agar tak tersiksa berlama-lama terasing
di tengah-tengah basi bisu aku dan kau
batang-batang lilin sudah menghendaki
pensiun dan dimasukkan saja ke laci
atau berharap di dalam rumah ini
tak pernah ada sebatang korek api
warna apa lagi yang belum mencoba
diri jadi kain taplak agar sempit tampak
ini meja makan, agar tak mampu ditampik
percakapan yang malah bertumpuk-tumpuk
seperti lemak di tubuh aku dan kau
bukankah sedih sekali
mengapa baru malam ini
aku dan kau menyadari
suap tangan aku tak mampu
menjangkau siap mulut kau
atau sebaliknya
Soneta tentang Kau yang Cabai Merahjika bisa biji-biji saja aku di dalam tubuh kau yang cabai
cabai merah lebih api yang darah aku tak mampu capai
lebih merah yang merah lidah aku tidak sanggup gapai
lebih merah dari hati aku yang kepada kau tak sampai
atau merah-nyalakanlah hidup aku yang selalu redup
atau merah-semukanlah malu aku yang tak mau cukup
tancapkan lancip ujung kau agar dada aku bisa kuncup
dan luka-luka aku cuma kepada bibir kau akan mengecup
dan kecup juga bibir aku yang tak seberapa tahu mengecap
agar sedikit merah dan kepada nama kau aku fasih mengucap
cuma kau cabai merah, o, cabai yang teramat rindu aku lumat
maka merah-pedaskan nasi aku yang hanya punya buah tomat
atau merah-sambalkan nasib celaka aku yang tidak mau tamat
agar utuhlah kisah aku mengalur di kalimat kau hingga kiamat
Soneta yang Tidak Mampu Kelarsebab kesenyapan besar bunyi yang cuma desir
lewat bisikan orang dari jauh lagu itu aku dengar
syair lagu itu memang amat mencintai banyak bibir
sehingga tak ada yang tahu dari bibir siapa ia lahir
namun aku tak mungkin salah: bibir kau paling mahir
menyanyikannya sebagai mantra-mantra penyihir
petikan gitar yang mengiringinya cacat bergetar
namun justru itu membuat aku semakin berdebar
menerima semua kenangan yang semula samar-samar
yang bertambah hingar saat lagu itu habis terdengar
kau tiba-tiba mekar menjadi belukar tidak berpinggir
di tengah-tengahnya aku kesasar tak tahu jalan keluar