Blog ini nyaris kembar dengan blog saya yang lain, pecandubuku, yang beberapa bulan terakhir ini tak bisa saya perbaharui karena kehilangan kunci. Sejak awal tahun 2008, saya memang menggandakan postingan di blog pecandubuku itu ke blog ini. Postingan dari tahun 2004 hingga 2007 bisa ditelusuri di pecandubuku.

Saat ini saya sedang mempersiapkan kumpulan sajak terbaru saya, Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita. Kumpulan sajak itu khusus saya terbitkan untuk merayakan 10 tahun Komunitas Ininnawa, komunitas di mana selama ini saya tinggal dan belajar. Bagi Anda yang tertarik membaca dan mengomentari naskahnya silakan mengirimkan pesan ke m.aan.mansyur@gmail.com. Saya akan mengirimkan draft buku itu. Setelah membaca, kirimkan komentar Anda untuk saya tayangkan di blog ini. Terima kasih.

Sunday, January 31, 2010

Sejumlah Komentar Sahabat

Berikut ini adalah sejumlah komentar untuk calon buku sajak terbaru saya, Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita.


SAJAK Aan dalam buku ini adalah sajak yang riuh, ramai, gaduh, berisik, dan bising. Membacanya, engkau seperti berkunjung ke sebuah taman fantasi. Si penyair kita ini sebenarnya merindukan kesunyian, tapi dia tak bisa dan tak mau mengelak dari suara-suara keras yang mengepungnya. Untuk menaklukkan keramaian itu Aan menyatukan diri dengannya, menghadirkan diri tepat di tengah-tengah keriuhan itu, memotret dengan lihai - dengan sudut pandang yang hanya bisa dilakukan dengan lensa mata penyair yang piawai - bagian-bagian yang bergerak dengan amat lekas. Dan dia berhasil. Saya disuguhi sebuah laporan (dan dalam satu sentakan juga permenungan) yang orisinil, dan melampaui sekadar fakta yang menjadi mata peristiwanya. Saya menyebutnya Sajakarnaval! [Hasan Aspahani]

NYARIS sebagian besar dari puisi Aan dalam bukunya kali ini memiliki nuansa yang sangat jauh berbeda dari "kebiasaan"nya yang telah hampir menjadi trademark, bahwa ia adalah penyair yang selalu bersedu-sedan dan bertutur dalam puisi dengan berbisik, tenang, mengalun pelan. Saya tidak melihat semua itu sekarang, sebaliknya saya melihat puisi yang penuh dengan imajinasi, sesekali terasa bagi saya sebagai rekaan yang sangat liar. Saya merasa sedang berada dalam hutan lebat penuh dengan monster-monster dan binatang-binatang berbentuk aneh. Aan menjadi begitu surrealis. Kalau dalam dunia fotografi atau desain grafis saya mengenal semacam aliran fantasi, maka puisi Aan dalam kumpulan puisinya kali ini saya sebut: "Fantapuisi!" [Bernard Batubara]

HANYA satu yang saya temui dari buku ini, Aan seolah-olah ingin membukankan dirinya. Tetapi, bagaimanapun kelihaiannya untuk bersembunyi, saya tahu bahwa itu dia —yang belum mampu sepenuhnya melepaskan diri: bersudah dari sedih. [Axn Azhar]

SEBAGIAN besar dari puisi-puisi Mas Aan dalam buku ini, saya pikir adalah hasil percobaan dan coba-coba ( main-main ) yang berhasil. dan karena itu ada banyak kebaruan yang ditawarkan. Di lain hal puisi-puisi dalam buku ini begitu emosional tapi tenang, begitu riuh tapi sepi, kadang seperti naik kendaraan yang ngebut tapi terasa pelan. tapi ini cuma menurut saya sebagai pembaca. tentu pembaca lainnya mempunyai kesan lain dari saya. [Syaiful Bahri]

SAJAK-SAJAK M Aan Mansyur seolah-olah meniupkan roh ke dalam segala macam benda yang sedang aku lihat. Lalu benda-benda itu menyajikan semacam drama yang aku juga menjadi pemerannya. Dan setelah selesai bermain, aku baru sadar bahwa sebenarnya aku bukan siapa-siapa di sana. [Dedy Tri Riyadi]

Tuesday, January 26, 2010

Sebuah Buku Kecil yang Aku Tuliskan Ketika Berulang Tahun tentang Lelaki dan Binatang-Binatang dalam Jasnya

Pengantar

aku menulis buku ini sepulang bertemu penjahit.
aku pikir setelah berulang-ulang berulang tahun,
tak salah menghadiahi diri sendiri satu stelan jas.
kadang aku merasa sebagai penjahat yang perlu
pakaian yang bikin tampan dan tampak sopan.

di usia-usia rawan yang ditarik-tarik dari depan
dan belakang ini, memiliki jas adalah kebutuhan.
makin banyak undangan perjamuan yang datang.
meskipun kemungkinan jas itu cuma aku kenakan
di hari kematianku yang diramalkan sudah dekat.


Bab 1

ada pot berisi bebunga tiruan duduk di atas meja.
ada pulpen sedang bekerja menyelesaikan bagian
meja yang tak sempat dirampungkan oleh tukang.

dan laci terkunci meja itu, tentu saja, menyimpan
rahasia, bencana rencana dan mimpi yang hampa.

sementara lelaki berjas di kursi kurus jangkung itu
ialah seorang yang membayangkan diri aristoteles.
dia membaca kalimat ‘manusia adalah binatang …’


Bab 2

laki-laki berjas itu berdiri di atas sepatu lancipnya
sembari menopang kepalanya yang besar berisikan
kelinci (mungkin jantan) yang berisik berbulu putih
bagai selimut baru dicuci dan berhidung sehitam aib.

dari saku jasnya ada yang seolah sudut saputangan.
tapi aku tahu itu kuping tikus yang memerlukan diet.
di dadanya seekor ular tidur melingkar seusai makan.
dua tangannya terkepal—apakah dia hendak melepas
kawanan serangga ke udara yang luas tak terhingga?

tapi dia tak sekalipun pernah salah mengeja namanya.
dia menyentuh dan tersentuh kesedihan bunga-bunga.
sakitnya sembuh oleh senyum si asing yang melintas.
dia tidak marah celananya disinggahi debu dan bulu
dari bangkai yang sudah lama dibingkai masa lalu.


Bab 3

tanah sudah sekeras beton karena itu jangan tunggu
ada yang tumbuh selain pohon yang sudah berubah
menjadi tangga, yang tinggi, ke langit yang seolah-
olah. begitulah yang diyakini oleh lelaki berjas itu.

dia menapak satu demi satu anak tangga membawa
ribuan ekor burung di balik sepasang ketiaknya—
dia tahu puncak tertinggi adalah jatuh lagi ke tanah.

dia ingin mengenakan burung-burung sebagai parasut.
sejak kanak-kanak dia bercita-cita menjadi satu berita.


Bab 4

dia sengaja tak membawa satupun binatang ke mimbar
meski memakai jas yang sama. pikirnya: membiarkan
mereka tinggal di rumah sesekali adalah salah satu cara
menjinakkan. mereka harus lebih jinak dibanding wanita.

dia membaca pidato yang dikutip dari naskah kakeknya.
di atas kepalanya tiba-tiba telah berdiri sebuah istana,
tempat lahir semua binatang yang dia tinggalkan di rumah.

orang-orang dengan kepala terbuka di depannya bertepuk
tangan tapi dia tak bisa mendengarnya sebab dia telah jauh
hilang ke masa lalu kakeknya yang dia lupa siapa namanya.


Bab 5

suatu pagi kelincinya sakit gigi. dia pergi ke kantor
tanpa mengenakan kepala. tetapi koper dan sakunya
penuh dengan tikus. dan celananya berisi kaki kijang
yang paling gesit berlari. dia sangat senang kelincinya
sakit gigi, dia tidak mau berbasa-basi dan tersenyum.

hari itu, di jalan, dia berpapasan dengan orang-orang
buta. hanya orang-orang buta. yang tidak buta sedang
malas meninggalkan tempat tidur. dia sedang menang.


Bab 6

ketika cuaca buruk di negerinya sedang memerahkan
angka kalender, dia akan bekerja di satu kamar hotel
(tentu saja dia mengajak binatang-binatangnya juga.)

di dinding kamar hotel itu dia menggambar bayangan
dirinya. dia ingin seorang raksasa yang rakus tumbuh
dari dinding itu. dia tak pernah lupa membayangkan
dia jatuh cinta dan menikah dengan seorang wanita
yang akan menghadiahinya masalah masa depan.

untuk tumbuh, anak-anak butuh lebih dari sepasang
orang tua. itulah, itulah yang selalu menghantuinya.


Bab 7

dia kadang menggunakan kendaraan umum agar bisa
menyamar sebagai si siapa saja. itu dia lakukan saat
jasnya sedang ada di binatu dan binatang-binatangnya
sedang cuti tahunan merayakan hari-hari besar mereka.

dia terlihat santai dan santun bukan main karena takut.
sebab dia kehilangan cakar. sebab dia kehilangan taring.
sebab dia kehilangan kaki yang kuat berlari. sebab dia
tidak mampu melilit, menjerat, mengerat dan menjilat.

saat-saat seperti itu sesungguhnya dia sungguh kesepian.
sebab tak ada seorangpun mau menyapa dan tersenyum
kepada orang-orang yang jasnya sedang berada di binatu.


Bab 8

dia memutuskan memasang kupu-kupu di kerah jasnya.
dia sedang jatuh cinta. setiap dia duduk atau berbaring,
dia selalu membayangkan seorang perempuan sedang
membayangkan dirinya tersenyum. perempuan berbeda,
bukan yang melahirkan anak-anaknya yang tidak peduli.

di muka cermin dia kerap tersenyum, seolah menghadapi
seorang perempuan yang amat susah dirayu dan mencintai
lelaki lain yang jasnya memiliki lebih banyak kupu-kupu.

dia kasihan kepada dirinya sendiri dan kepada jasnya
yang sudah terlalu sering dicuci di binatu langganannya—
juga seluruh binatang peliharaannya yang semakin tua.


Bab 9


sebenarnya dia sudah meminta berkali-kali kepada dirinya
agar dipensiunkan saja. apalagi dia sudah membeli peti mati
berukuran raksasa yang bisa menampung sekebun binatang.

dia juga sudah berkali-kali meminta dirinya memberi gelar
pahlawan dan seluruh kekayaannya dimuseumkan agar bisa
jadi pelajaran sejarah. setelah meraih cita-citanya jadi berita,
dia ingin sekali masuk ke dalam buku sejarah—tak masalah
jika buku sejarah itu penuh hal tiruan seperti bunga di atas
mejanya yang beberapa bagiannya tak pernah diselesaikan
pulpen yang sudah berhenti bekerja karena kehabisan cinta.


Penutup


aku tidak tega menulis semua nama binatang yang hidup
di balik jas lelaki itu sebab lelaki berjas yang kukisahkan
dalam buku ini adalah ayahku. karenanya aku menanggung
akibatnya: sejumlah binatang yang tak aku sebut itu kini ada
di balik jasku. suatu saat seseorang akan menuliskan mereka,
mungkin anakku saat berulang tahun dan memiliki jas baru.

Makassar, 14 Januari 2010

CATATAN: Sajak di atas adalah interpretasi bebas dari sejumlah drawing karya Saul Steinberg yang menjadi ilustrasi di buku Elliot Aronson, The Social Animal (Freeman, 1996).