blog ini nyaris kembar dengan blog saya yang lain, pecandubuku, yang beberapa hari terakhir ini tak bisa saya perbaharui karena kehilangan kunci. sejak awal tahun 2008, saya memang menggandakan postingan di blog pecandubuku itu ke blog ini. postingan dari tahun 2004 hingga 2007 bisa ditelusuri di pecandubuku.

Senin, November 02, 2009

Kwatrin Tentang Jatuh Cinta dan Waktu yang Berhenti

Ketika saling sangat jatuh cinta, kami selalu membayangkan
jika saja waktu bisa berhenti, mati dan menyelamatkan kami.
Waktu dengan pelan dan teratur bertanya: bagaimana kalian
akan mengerti berapa lama waktu berhenti kalau Aku mati?

Kwatrin Tentang Bayang-Bayang

Kwatrin Tentang Bayang-Bayang
Seorang Lelaki Tua di Suatu Petang


Dia berjalan bersama bayang-bayang
di suatu petang sambil bertanya ragu:
aku yang membuat bayangan panjang
atau bayangan yang memendekkan aku?

Soneta Pertama Tentang Perih

Aku pergi bersama bibirku jauh
dari setiap kuping dan kening.
Ucapan dan kecupan akan jatuh
dan hanya menyentuh hening.

Aku memiliki nama-nama baru
buat menyalahalamatkan ngilu
rindu atau sesal yang memburu
diberi waktu sekali lagi menipu.

Ini hilang yang tak kenal pulang
atau pulang yang tidak ke mana
selain menjelang ke lain hilang.

Tetapi aku tidak meninggalkan kau
walau di sini aku hanya diri sendiri.
Di manapun aku selalu kau jangkau.

Kwatrin Sepulang Menziarahi Makammu

di tepi setapak yang tampak semakin sempit
aku melihat bebungaan rumput menguntum
dan berhenti sejenak, mungkin sekian menit
lalu lanjut pulang dengan sejumput senyum

3 Sajakku di Koran Tempo, 27 September 2009

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

Menghadapi Meja Makan Malam

bukankah lucu sekali
mengapa baru malam ini
aku dan kau menyadari

telah bertahun-tahun meja makan
alangkah lapang memisahkan

dan semua yang menghampar
di atasnya tak menyingkat jarak
atau sekat antara aku dan kau

maka tangkup para mangkuk
hanya berisi daun-daun layu
warnanya semata hijau mati
tak punya cahaya seperti mata
sepasang milik kau yang dulu itu

para piring pura-pura merah
oleh bawang, wortel, tomat, cabai
atau cinta yang sesekali memantul
dari percakapan antara aku dan kau
tentang diri orang-orang lain

nasi sudah pula lupa warna putih
yang harusnya membuat lapar patah
atau jatuh ke dalam entah

air di dalam gelas yang tinggi
seperti sumur selalu menunggu
tenggorokan aku dan kau jadi sungai,
tangga yang akan mengembalikannya
ke langit ke tubuh awan yang gemuk

buah-buahan ingin segera membusuk
berulat dan kembali ke ranting-ranting
atau merindukan pisau pembawa tusuk
agar tak tersiksa berlama-lama terasing
di tengah-tengah basi bisu aku dan kau

batang-batang lilin sudah menghendaki
pensiun dan dimasukkan saja ke laci
atau berharap di dalam rumah ini
tak pernah ada sebatang korek api

warna apa lagi yang belum mencoba
diri jadi kain taplak agar sempit tampak
ini meja makan, agar tak mampu ditampik
percakapan yang malah bertumpuk-tumpuk
seperti lemak di tubuh aku dan kau

bukankah sedih sekali
mengapa baru malam ini
aku dan kau menyadari

suap tangan aku tak mampu
menjangkau siap mulut kau

atau sebaliknya


Soneta tentang Kau yang Cabai Merah

jika bisa biji-biji saja aku di dalam tubuh kau yang cabai
cabai merah lebih api yang darah aku tak mampu capai
lebih merah yang merah lidah aku tidak sanggup gapai
lebih merah dari hati aku yang kepada kau tak sampai

atau merah-nyalakanlah hidup aku yang selalu redup
atau merah-semukanlah malu aku yang tak mau cukup
tancapkan lancip ujung kau agar dada aku bisa kuncup
dan luka-luka aku cuma kepada bibir kau akan mengecup

dan kecup juga bibir aku yang tak seberapa tahu mengecap
agar sedikit merah dan kepada nama kau aku fasih mengucap

cuma kau cabai merah, o, cabai yang teramat rindu aku lumat
maka merah-pedaskan nasi aku yang hanya punya buah tomat
atau merah-sambalkan nasib celaka aku yang tidak mau tamat
agar utuhlah kisah aku mengalur di kalimat kau hingga kiamat


Soneta yang Tidak Mampu Kelar

sebab kesenyapan besar bunyi yang cuma desir
lewat bisikan orang dari jauh lagu itu aku dengar

syair lagu itu memang amat mencintai banyak bibir
sehingga tak ada yang tahu dari bibir siapa ia lahir
namun aku tak mungkin salah: bibir kau paling mahir
menyanyikannya sebagai mantra-mantra penyihir

petikan gitar yang mengiringinya cacat bergetar
namun justru itu membuat aku semakin berdebar
menerima semua kenangan yang semula samar-samar
yang bertambah hingar saat lagu itu habis terdengar

kau tiba-tiba mekar menjadi belukar tidak berpinggir
di tengah-tengahnya aku kesasar tak tahu jalan keluar

Buah-Buah Awan

Hadapkan, hadapkan wajahmu ke langit
dan saksikan kawanan awan yang merimbun
bagaikan belantara hutan putih yang memenuhi
ruang antara yang hampa menghampar tak dihuni

Harapan-harapan yang megap dan menguap
dari dadamu dan dadaku itulah yang menikah
kemudian mekar merekah menjadi awan.

Engkau tahu ada batang-batang menjulang tinggi,
tangga yang menopang rimbunan awan doa kita?
Akar-akarnya mencakar-cakar tubuh kita yang tanah.

Tabah dan tunggulah tiba buah-buahnya!

Kadang-kadang bunganya banyak jatuh menjenguk
keyakinan kita; apakah akan datang musim panen?

Kita tak butuh memanjat dan mematahkan
ranting-rantingnya. Suatu ketika akan runtuh
buah-buah itu menutup segenap atap rumah
dengan ramah, meruah bagai berkah tumpah
dan kita berdua tak bisa tak bahagia dan basah.

Kita akan mengucapkan syukur di dalam selimut,
di malam-malam selepas lunas pesta menjabat
tangan-tangan tamu yang mengecupkan selamat.

Jangan pergi! Sini kawani aku betah menanti, Sayang!
Sedikit lagi, sedikit lagi buah-buah awan akan matang.

Puisi Cinta atau Pertanyaan-Pertanyaan

Seutas ulas senyum yang pantas dan pas
mengenakan wajahmu, senyum panas
yang, aduh, menyeduhdidihkan dadaku,
tahukah engkau berapa jumlah wajah
yang salah telah ia coba sebelum tiba
dan terikat di wajahmu, kekasihnya

Segaung agung suara yang gula dan lagu,
yang menghamba dan menyembah lidahmu,
yang menggubah setiap kata menjadi nada
dan mengubah utuh tubuhku menjadi telinga,
tahukah engkau di tebing-tebing mana saja
ia mencari-memanggil-benturkan namamu
sambil memanggul berat rindu agar mampu
sampai meraih merah lidahmu, kekasihnya

Sealur alir airmata yang perih dan jernih
sejernih cahaya matahari di mataharumu,
yang melihat diriku semu semata bayangan,
tahukah engkau sejauh mana perjalanan
telah ia tempuh dari akar-akar pohonan,
anak-anak sungai, awan, hujan dan telaga
juga kerongkongan-kerongkongan dahaga
hingga jatuh cinta dari matamu, kekasihnya

O, Kekasihku?